Efisiensi Pasar Modal: Pasca Diberlakukannya Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 Tentang Pasar Modal

Nuh Fadillah

Abstract


Ada tiga bentuk efisiensi pasar modal, yaitu: (1) Efisiensi bentuk lemah, adalah keadaan pasar modal yang harga-harga sahamnya mencerminkan dengan cepat dan tepat informasi masa lalu; (2) Efisiensi bentuk setengah kuat, adalah keadaan pasar modal yang harga-harga sahamnya mencerminkan informasi masa lalu dan informasi yang dipublikasikan; dan (3) Efisiensi bentuk kuat, adalah keadaan pasar modal yang harga-harga sahamnya mencerminkan informasi yang dipublikasikan, dan informasi yang belum dipublikasikan (informasi pribadi).

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah harga sekarang atas saham mencerminkan sepenuhnya informasi masa lampau (hipotesis pasar modal efisien bentuk lemah). Ini berarti bila seseorang berdagang saham dengan menggunakan informasi masa lalu, tidak akan memperoleh hasil di atas normal. Di samping itu, penelitian ini menguji anggapan bahwa efisiensi pasar modal dalam keadaan bullish dan ketika pasar modal dalam keadaan normal, maupun bearish adalah sama saja. Penelitian ini diperlukan dengan alasan jika harga saham tidak sepenuhnya mencerminkan dengan cepat dan tepat seluruh informasi relevan yang tersedia, maka harga saham dapat menyesatkan untuk membuat keputusan ekonomi.

Observasi penelitian ini difokuskan pada harga saham mingguan (kurs awal minggu) untuk 45 perusahaan yang go public yang masuk dalam Indeks LQ-45 1997. Periode tahun 1997 adalah periode dimana pasar modal mengalami tiga kondisi sekaligus, yaitu bullish (6 Januari – 19 April 1997), normal (Mei – Juli 1997), dan bearish (4 Agustus – 27 Desember 1997).

Hipotesis yang diajukan adalah: (1) H1 : Bursa Efek Jakarta belum efisien, dan (2) H2: Efisiensi Bursa Efek Jakarta pada saat kondisi bullish, normal, dan pada saat kondisi bearish sama saja. Untuk menguji hipotesis pertama (H1) dipergunakan prob-value yang didasarkan pada hasil perhitungan tes randomness dan tes korelasi seri. Tes randomness digunakan bahwa harga saham berubah secara acak, sedangkan tes korelasi seri dihubungkan dengan sifat lain dari pasar modal yang efisien, yaitu bahwa perubahan harga saham tidak mempunyai korelasi. Sedangkan untuk menguji hipotesis kedua (H2) dipergunakan uji statistik nonparametric, yaitu uji jenjang bertanda Wilcoxon biasa dengan tiga analisis.

Dari hasil tes randomness mendukung hipotesis penelitian (H1) diterima. Sedangkan dari hasil tes menunjukkan bahwa harga tidak bersifat acak dan tidak ada korelasi antara harga saham.

Sedangkan dari hasil uji jenjang bertanda Wilcoxon mendukung hipotesis penelitian (H2) ditolak. Dengan kata lain, bahwa efisiensi pasar modal –bentuk lemah– pada saat kondisi bullish, normal, dan pada saat kondisi pasar modal mencapai kondisi bearish adalah berbeda.

Hasil penelitian ini hanya berlaku untuk periode observasi Januari – Desember 1997 serta terbatas pada asumsi dan data yang digunakan. Apabila data yang digunakan adalah data harian atau bulanan meskipun periode observasi, asumsi, dan model yang digunakan sama dengan penelitian ini, maka hasil penelitian akan berbeda. Adapun data yang digunakan data sekunder yang bersifat bulanan yang diperoleh dari harga saham pada akhir bulan.

Keywords


Efisiensi, Pasar modal, pasca diberlakukannya Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal

Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.